Sikap Malu Untuk Melakukan Suatu Ibadah Merupakan Perbuatan Yang – Dan berilah dia ketenangan كَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الُوْلَٳ ؒ%َِ إ%لَى َحْيِ فَاصْنَع dan مَا شِئْتَ” (متفقف علیہ)

“Sesungguhnya, sebagian dari apa yang diketahui orang-orang dari ungkapan kenabian pertama adalah, ‘Jika kamu tidak malu, lakukanlah apa yang kamu mau.’

Sikap Malu Untuk Melakukan Suatu Ibadah Merupakan Perbuatan Yang

1. Hadits ini merupakan hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sahihnya di beberapa tempat antara lain :

Ma Unggulan K.h. Abd. Wahab Hasbulloh

2. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Sunan Ibni Majah kitab Az-Zuhud bab Al-Haya’ hadits no.

3. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad As-Syamiyin, Bab Baqiyati Hadits Abi Mas’ud Al-Badri Al-Anshari ra di tiga tempat yaitu hadits nos.

Hadits ini ada syahidnya (hadits tentang pokok bahasan yang sama namun diriwayatkan melalui alur riwayat yang berbeda) yang menguatkan riwayat Abu Mas’ud di atas, yaitu riwayat lain dari Hudzaifah bin Yaman yang mempunyai pokok bahasan yang sama dengan riwayat Abu Mas. ud tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Musnad Al-Anshar, bab Hadits Hudzaifah bin Yaman, hadits 22170 dan 22344

Hadits singkat dan sederhana ini menggambarkan sebuah nilai mulia yang ternyata merupakan nilai yang ditanamkan oleh para nabi dan Rasul radhiallahu anhum ajma’in sebelum Nabi Muhammad SAW bahwa jika nilai ini menghiasi raga dan hati setiap muslim, maka Allah akan rela menyadarkannya. dari segala macam perbuatan buruk dan tercela, atau dengan kata lain terbangun keimanannya.

Innamal A Malu Bin Niat Artinya Perbuatan Bergantung Pada Niat, Simak Tafsirnya

Nilai luhurnya adalah sifat yang disebut dengan al-haya’, yaitu rasa malu yang didasari keimanan kepada Tuhan, yang memunculkan sikap selalu menjaga diri dari segala perbuatan maksiat dan munkar, bahkan selalu mendorong seseorang untuk selalu berbuat baik. perbuatan etis (dengan sopan santun) terhadap siapapun dan dimanapun berada.

Baca Juga  Analisis Hubungan Kondisi Geografis Dan Sosial Budaya

Sifat tersebut merupakan buah keimanan yang tertanam dalam hati setiap muslim yang tercermin dari selalu adanya rasa malu ketika melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ruh Islam dan mendorongnya dalam melakukan segala hal. amalan yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah SWT.

Hakikat al-haya merupakan hikmah yang sangat berharga yang diajarkan sejak masa kenabian pertama (yaitu masa kenabian sebelum Nabi Muhammad SAW) yang “wajib” untuk dihias oleh seluruh umat Islam.

Artinya para Nabi dan Rasul sepakat untuk menanamkan nilai tersebut dalam hati umatnya, bahkan sifat ini seolah menjadi sifat wajib atau utama bagi para Nabi dan Rasul itu sendiri.

Kepribadian Fatimah Az Zahra Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Muslimah Masa Kini

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyatakan dalam Fathul Bari-nya bahwa makna sabda Nabi (كلام النبوة) adalah ‘ungkapan kenabian’, yang dimaksud adalah (مما عتفق) sesuatu yang disepakati Nabi.

Jadi sebenarnya sifat tersebut juga merupakan sifat yang wajib dimiliki oleh seluruh umat Islam, khususnya du’at (baca: penggiat dakwah), khususnya para pengemban amanah dakwah di muka bumi ini.

Ada beberapa hikmah atau hikmah penting yang dapat dipetik dari hadis di atas, antara lain:

1.  Sebagai agama universal, Islam tidak hanya menekankan aspek penerapan hukum syariah bagi pemeluknya dari sisi pendekatan penegakan aturan; siapa yang melanggarnya mendapat hukuman dan siapa yang memenuhinya mendapat pahala.

Pnd. Agama Islam

Namun Islam sangat menekankan aspek al-wa’yu (kesadaran) atau kesadaran dan penghayatan dalam melaksanakan aturan tersebut.

Dalam artian syariat atau dinul Islam dan undang-undang yang mengatur seluruh dimensi kehidupan sebenarnya tidak dimaksudkan untuk membatasi umat Islam, namun hakikat hukumnya adalah untuk melindungi nilai-nilai yang sudah mendarah daging. begitu pula dengan iman yang harus dijaga dengan baik dan tidak dirusak.

Oleh karena itu, Islam juga mengedepankan sikap dan mentalitas yang mendorong masyarakat untuk menaati hukum syariah tanpa ada keberatan atau keengganan untuk menaati hukum tersebut.

Dan salah satu bentuk sikap tersebut adalah dengan memperkaya hati dengan sikap al-haya, yaitu sikap malu yang didasari keimanan kepada Allah.

Memupuk Rasa Malu Untuk Mewujudkan Indonesia Maju

Karena dengan sikap al-haya ini setiap muslim akan malu jika tidak menjalankan hukum Allah SWT, atau malu jika melanggar aturan Allah SWT, bahkan malu jika tidak beretika, sebagaimana yang diajarkan dalam ajaran agama islam (artinya: budi pekerti yang baik).

Bahwa jika dibandingkan dengan hakikat al-haya, meskipun tidak ada hukumnya, seluruh umat Islam tidak melakukan pelanggaran atau melakukan perbuatan tercela.

Baca Juga  Untuk Mendapatkan Barang Yang Jumlahnya Terbatas Maka Diperlukan Pengorbanan

2. Ajaran para Nabi dan Rasul yang diturunkan ke bumi oleh Allah SWT pada dasarnya mengandung prinsip dan hakikat yang sama dengan nilai-nilai yang diajarkannya.

Karena pada dasarnya segala sesuatu yang diajarkan oleh para nabi dan rasul, semoga Allah merahmati dan memberinya kedamaian, adalah wahyu dari Allah SWT.

Pai Kelas 9

Jadi kalau kita perhatikan, setiap Nabi dan Rasul tanpa terkecuali mengajarkan kita untuk selalu bertauhid kepada Allah SWT, beriman kepada hari akhir, berakhlak mulia, beramal shaleh, dan sebagainya.

Dan salah satu nilai utama yang terkandung dalam ajaran seluruh nabi dan rasul dan disepakati mereka adalah anjuran untuk selalu memiliki sifat al-haya, yaitu rasa malu yang timbul dari adanya keyakinan. Allah SWT.

3. Sikap al-haya atau malu, yang diartikan oleh Syekh Mustafa Dieb Al-Bugha adalah “menjauhi perbuatan tercela dan pantang melakukan sesuatu, atau bahkan meninggalkan sesuatu karena takut akan celaan dan hinaan yang bertentangan dengan iman.”

Namun yang perlu ditonjolkan dari sifat al-haya’ atau rasa malu adalah bahwa al-haya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan.

Pendidikan Agama Islam Dan Budi Perkerti Kelas X (buku Siswa)

Semakin kuat keimanannya kepada Allah SWT maka semakin tinggi al-hayanya. Itulah sebabnya kita menemukan Nabi Muhammad dalam beberapa hadits yang menghubungkan iman dengan al-haya.

عَنْ اَ رضِ رضِ اللّهُ عَنْ النّ صلّى اللل مَانِ (رواه الخاري)

Ibnu Qayim Al-Jauzi menyatakan dalam Tahdzib Madarijis Salikin bahwa sifat al-haya’ dapat berasal dari kata (الحياة) al-hayah (hidup).

Artinya juga Al-haya (الحيا) yang artinya hujan. Dari sisi “kehidupan hati”, hakikat al-haya adalah kekuatan akhlak; dan orang yang sedikit al-haya (rasa malunya) adalah tanda matinya hati dan jiwanya.

Tata Krama, Sopan Santun Dan Rasa Malu

Penulis melihat (dalam kaitannya dengan apa yang disampaikan Syekh Ibnu Qayim Al-Jauzzi di atas) bahwa hubungan antara al-haya’ (malu) al-hayah (hidup) dan al-haya (hujan) adalah orang-orang yang mempunyai rasa sayang sekali, pada dasarnya adalah orang-orang yang “berhati-hati” dalam hidup.

Insya Allah rasa malu ini akan menyelamatkannya dari segala bentuk kejahatan dan kepalsuan. Dan aib ini jika menghiasi diri seorang muslim ibarat hujan yang menyirami, menaungi dan menumbuhkan segala kebaikan di hatinya dan terwujud dalam kehidupan, sebagaimana hujan juga menumbuhkan berbagai tanaman dan memberi keteduhan di hatinya. . bumi atau dengan kata lain menjadi energi untuk memperoleh keridhaan Ilahi.

Baca Juga  Perbuatan Taat Dan Menurut Terhadap

Dipersembahkan oleh : Follow IG : http://instagram.com/majelis 📱Informasi dan pendaftaran anggota : https://bit.ly/Csatlakozz 💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Gedung Dhuafa An. Yayasan BSM Rek No: 7113816637 Konfirmasi: +62 852-7977-6222 +62 822-9889-0678 Apakah Anda menyukai buku ini? Publikasikan buku Anda online gratis dalam hitungan menit! Buat flipbook Anda sendiri

231 8. ADA dalam hadis Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidzī bahwa yang sesungguhnya mempermalukan Allah adalah…. A. menjaga seluruh jiwanya dengan mengikuti program asuransi B. menjaga hartanya dengan menabung di bank syari’ah C. menjaga setiap sebagian tubuhnya akibat perbuatan yang diharamkan dalam Islam D .menjaga segala sesuatunya dengan memasang CCTV di dalam dan di luar rumah E. menjaga lingkungan secara bergantian dengan jaga malam 9. Perhatikan pernyataan di bawah ini! 1) menjauhi maksiat 2) mengutus hambamu untuk berbuat kebaikan 3) mengurangi rezeki 4) mendekatkan diri kepada Allah SWT. 5) tidak mendapat pekerjaan Dari pernyataan diatas yang memuat manfaat rasa malu sebagai salah satu cabang iman…. A. 1), 2) dan 3) B. 1), 3) dan 4) C. 2), 3) dan 4) D. 2), 4) dan 1) E. 3), 5), dan 1 ) 10. Rasa malu merupakan pertanda baik atau buruknya keimanan seseorang. Rasa malu berbeda dengan kurang percaya diri. Oleh karena itu, rasa malu ini harus ditempatkan pada tempatnya yang semestinya. Salah satu penggunaan rasa malu yang benar diberikan di bawah ini dalam…. A. Malu karena tidak mengerjakan PR B. Malu karena mengikuti pengajian umum C. Malu karena diolok-olok teman-temannya kalau ia berhijab D. Malu karena ia salat di gereja pada jam-jam tertentu. masjid E. Malu karena tidak mempunyai HP terbaru BAB 7 : Memperkuat Iman dengan Menjunjung Tinggi Kehormatan, Kejujuran, Rasa Malu, dan Asketisme

Sifat Malu Yang Terpuji Dan Tercela

232 Pendidikan agama dan akhlak Islam di SMA/SMK XI. untuk kelas b. Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas dan tepat! 1. Menjelaskan pengertian muru’ah baik secara linguistik maupun terminologis. 2. Bagaimana cara menerapkan muru’ah bagi santri? Sebutkan tiga cara. 3. Apa yang dimaksud dengan asketisme orang yang mempunyai penghidupan berkelimpahan? Sebutkan tiga. 4. Menjelaskan tiga ciri orang yang mempunyai sikap jujur. 5. Jelaskan tiga dampak menguntungkan dari rasa malu dalam kehidupan seseorang. 3. Asesmen Keterampilan 1. Menemukan kisah nyata tokoh-tokoh muslim tentang menjaga kehormatan, kejujuran, rasa malu, dan asketisme. 2. Cerita ditulis maksimal satu halaman A4. 3. Presentasikan hasil pekerjaan Anda di depan kelas. L Pengayaan Jika anda memahami cabang-cabang iman yaitu : menjaga kehormatan, kejujuran, rasa malu dan zuhud, maka anda bisa melakukannya. Anda dapat menambah wawasan Anda dengan membaca buku-buku berikut ini: 1. Basalamah, Rima Nasir. Al-Haya’ sebagai solusi permasalahan moral bangsa. Jurnal Raushan Fikr Vol.3 no. 2. 2 Januari 2014. Al-Ghazali, Abi Hamid. th. Ihya’ ‘Ulumudiin, Kairo: Dar al-Syu’b 3. Al-Muhasibi, Al-Harits. 2013. Belajar dengan jujur. Jakarta: Zaman. 4. Nawawi, Syekh Muhammad.