Ambilkan Bulan Bu Diciptakan Oleh – Pelangi, betapa cantiknya kamu. Merah, kuning, hijau di langit biru. Siapa pelukis terhebatmu? Pelangi, diciptakan oleh dewa pelangi.

Begitu banyak rasa syukur dalam syair lagu ini sehingga anak-anak sering menyanyikannya. Kami mengajak setiap orang yang bernyanyi atau mendengarkan untuk mensyukuri keindahan alam yang Tuhan ciptakan.

Ambilkan Bulan Bu Diciptakan Oleh

Bahkan, lirik lagu tersebut kebetulan dikenal dengan nama Masagous Abdullah Mahmud atau AT Mahmud. Kalimat puisi ini muncul saat Mahmud mengantar anaknya Roike ke taman kanak-kanak (TK).

Odong Odong Dan Bidadari

Tiba-tiba pelangi muncul di langit biru di jalan. Secara kebetulan anaknya menunjuk ke langit dan mengucapkan kata pelangi.

Jeritan anak itu bergema di kepalaku. Pria kelahiran Palembang, 2 Februari 1930 ini terpikir untuk menulis lirik lagu dari kata pelangi.

Sesampainya di rumah, Mahmud langsung mencoba menuliskan masakannya dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk lirik lagu ini. Dia kemudian mengambil gitar untuk menciptakan melodi lagu.

Lagu berjudul “Pelangi-Pelangi” ini hanya terdiri dari 18 kata. Dirangkum dengan baik dalam satu bait lagu tersebut. Puisi sederhana. Perintah itu dipatuhi. Namun musik yang dihasilkan terdengar indah.

Lagu Anak Anak Legendaris

Lirik lagu “Pelangi-Pelangi” penuh dengan kebahagiaan. Menggambarkan harapan Mahmud agar setiap anak selalu bahagia, apalagi melihat karya Tuhan seperti pelangi.

Ia mengaku selalu ingin melihat anak-anak bahagia. Ini karena Mahmoud menyukai anak-anak. Dari cinta ini dia menyusun setidaknya 500 balada.

Dia menjaga lirik setiap lagu tetap sederhana. Mahmoud mengetahui bahwa anak-anak masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan pemahaman. Namun menurutnya, setiap lagu harus memiliki makna dan mudah diingat. Dengan cara ini, dia menetapkan standar pada setiap lagu yang dia tulis untuk anak-anak.

Mahmoud Masagous lahir dengan nama Abdullah Mahmoud. Putra kelima dari 10 bersaudara pasangan Masagus Mahmud dan Masayu Aisyah asal Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar. Semasa kecil, ia tidak diasuh langsung oleh ibunya. Ia dibesarkan oleh neneknya yang tinggal bersama orang tua Mahmoud.

Pencipta Lagu

Selama berada di Palembang, ia dan keluarganya berpindah-pindah sebanyak tiga kali. Hal ini terjadi karena kantor ayahnya berada di seberang Sungai Musi. Alasan lainnya adalah lokasi Mahmoud dan saudara-saudaranya yang tidak jauh dari sekolah.

Baca Juga  Latar Belakang Lahirnya Nasionalisme Indonesia Adalah

Mahmud masih muda ketika Totong Kal muncul. Saat digendong ibunya, Mahmud sering mengucapkan kata Tong atau Otong. Ibunya mendengar nama seperti Totong. Oleh karena itu ia dipanggil Totong.

Layaknya anak kampung, ia pun senang berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya. Totong menyukai banyak aktivitas luar ruangan seperti berenang di Sungai Musi, memanjat pohon, dan pertunjukan kembang api.

Orang tuanya kemudian mendaftarkan Mahmud untuk bersekolah di SD di Sembilan Ilir, Palembang. Setahun kemudian, pada usia tujuh tahun, ia bersekolah di Hollandse Indian School (HIS) 24 Ilir.

Turkish Cristen Cray Archives

Saat belajar di HIS, Mahmoud mengambil pelajaran musik dari seorang guru Belanda. Mahmud terkesan dengan gaya mengajar gurunya. Itu sebabnya saya suka belajar musik.

Guru sekolah mengganti huruf vokal dengan kata-kata yang lebih mudah diingat oleh siswanya. Misalnya urutan nada Do rendah ke tinggi diganti dengan tulisan “do-dol-ga-rut-e-nak-ni-an”. Demikian pula nadanya menurun dari tinggi ke rendah. Guru mengubahnya menjadi “a-nak-ni-an-do-dol-ga-rut.”

Setelah siswa memahami skala dengan cara ini, “do-re-mi-fa-sol-la-si-do” digunakan. Belajar menyanyi dilanjutkan dengan solmisasi seperti yang biasa dilakukan.

Mahmud belajar musik dengan tekun. Tak hanya menyanyi, ia juga memainkan alat musik. Ia mencoba menguasai gitar dan banyak alat musik lainnya. Itu membuatnya mudah untuk bernyanyi.

Contoh Soal Ujian Sbdp

Pada masa pergantian kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda yaitu. H. Pada tahun 1942, Mahmud duduk di kelas V HIS. Ayahnya meminta Mahmud untuk mengikutinya dari Palembang ke Muarenim. Di lokasi baru, ia belajar di bekas HIS setempat, yang kemudian berganti nama menjadi Kanzen Shoga.

Dia bertemu dan bertemu pemain saksofon Ishaq Mahmuddin dari orkestra musik “Ming”. Orkes ini sangat populer di Muarenim Palembang.

Melalui Ishaq, Mahmud belajar bermain gitar hingga mulai bermain senar. Bisa ditebak, sang guru mengajaknya bergabung dengan Ming Music Orchestra. Orkes musik ini sering tampil di berbagai festival di palembang, seperti pernikahan, khitanan dan hajatan lainnya.

Keinginan Mahmud bersekolah di Sekolah Nasional Indonesia di Kayu Tanam, Sumatera Barat sempat membuat heboh. Bukan tanpa alasan dia ingin bersekolah di sekolah ini. Tidak lebih dari itu, karena sekolah tersebut memiliki bagian pendidikan musik.

Si Bolang Dan Sang Alam

Setelah lulus sekolah dasar pada tahun 1944, Mahmud berhenti bersekolah. Ia melanjutkan pendidikannya di Mizoho Gakoi-en di Palembang. Mahmud ditempatkan di pensiun dan menerima pelatihan militer. Dia tidak lagi mendengar musik.

Di asrama dan di sekolah ia bertemu dengan Emil Salim yang menjadi sahabat dekatnya. Sayangnya, latihan tersebut tidak bisa selesai tepat waktu karena tanda-tanda kekalahan Jepang semakin terlihat.

Setelah lulus dari sekolah ini, ia bekerja sebagai penerjemah di beberapa kantor dan perusahaan Jepang. Kantornya berlokasi di luar kota palembang.

Baca Juga  Tari Kupu-kupu Berasal Dari Daerah

Ketika Jepang mengumumkan menyerah kepada Sekutu pada tahun 1945, Mahmud diminta oleh ayahnya untuk kembali ke Tebingtingi. Ayahnya menjabat sebagai Wedana pada Bagian Sidang Pengadilan Kabupaten Musi Ulu, Rawas dan Tebing Tinggi.

Serunya Bermain Angklung Dan Menari Bersama Anak Anak Saung Angklung Udjo Bandung

Saat itu, Mahmud diminta bekerja sebagai stenografer di kantor Kavedanaan. Meski Mahmud tidak bisa melanjutkan studinya, namun ia tidak melewatkan kesempatan untuk berlatih menulis puisi. Pada tanggal 1 Februari 1946, ia bersekolah di sekolah menengah (Realstufe Realschule) dan bertemu lagi dengan Emil Salim di sana.

Kemudian pada bulan Maret 1946, pasukan Sekutu gelombang kedua mendarat di kota Palembang bersama tentara Belanda yang tergabung dalam NICA. Bahkan ketika tembakan dilepaskan, pembelajaran tidak berhenti. Mahmud dan kawan-kawan pun memanfaatkan waktu tersebut untuk bersantai dan bernyanyi musik bersama teman-temannya.

Sesaat sebelum invasi militer Belanda pertama, Mahmud ditugaskan membantu pemberantasan buta huruf di Prabumulih. Fasilitas yang tersedia saat itu sangat minim. Kemudian ketika Mahmud diserang, dia meninggalkan Prabumulih dan pergi ke Lahat karena di sana tidak aman. Ia kemudian pergi ke Tebingtingi untuk tinggal bersama keluarganya.

Mengetahui teman-teman dan pejuangnya bertekad melawan Belanda, Mahmud mengabaikan larangan keluarganya dan mengemas barang-barangnya ke Lubuklinggau. Dia berangkat bersama Ishaq dan rombongan Mu’arenim.

Lagu Anak Indonesia Untuk Pengantar Tidur, Ini Lirik Lagu Ambilkan Bulan Bu Hingga Nina Bobo

Mahmud bergabung dengan subkomando Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Sabcos) Sumatera Selatan pada bulan September 1947. Ia ditugaskan untuk membuat poster dan ilustrasi bertema semangat juang. Dia sekarang bersekolah di sekolah menengah setempat.

Selama Tebingtingi dikuasai Belanda, ada kekhawatiran Lubuk Linggau juga akan jatuh ke tangan Belanda. Oleh karena itu, para penghuni wisma meninggalkan Lubuklingau menuju kota yang tidak dikuasai Belanda. Dalam perjalanan, Mahmud bernyanyi untuk menghibur dirinya dan menulis lagu saat istirahat.

Sesampainya rombongan di Muara Aman, Mahmud dan beberapa rekannya bertugas menyelenggarakan Radio Republik Indonesia – Suara Indonesia Merdeka. Ia dan Ishaq ditugaskan menyanyikan lagu-lagu pertempuran kepada seluruh pasukan di seluruh medan perang di Sumatera Selatan.

Menjelang akhir tahun 1949, Mahmud kembali ke Tewing Tinggi dan kemudian ke Palembang untuk mengunjungi keluarganya. Dia meninggalkan tentara dan kembali ke sekolah.

Indonesia Jepang Friendship, 120 Warga Jepang Mainkan Angklung

Pada tanggal 16 Agustus 1950, Mahmud lulus ujian akhir SMU bagian pertama. Namun karena keterbatasan sumber daya, ia tidak segera melanjutkan sekolah tersebut. Ia tak segan-segan mendaftar setelah mengetahui ada Sekolah Guru Bagian A (SGA) di Palembang dengan tunjangan pelatihan tiga tahun.

Tiga tahun kemudian, ia lulus dan ditugaskan ke Tanjungpinang di Riau untuk menjadi guru SGB. Gaji satu dolar sebagai guru pendidikan jasmani meningkatkan kehidupannya. Ia bertemu Mulyani Sumarman, seorang guru bahasa Inggris di sekolah menengah negeri, yang kemudian menjadi istrinya.

Baca Juga  Pidato Bahasa Sunda Singkat Tentang Agama

Pada tahun 1956 ia pindah ke Jakarta dan menjadi guru di SGB V Kebayoran Baru. Ia juga mendaftar di jurusan Bahasa Inggris BI. Setelah menikah pada 2 Februari 1956, ia pun memboyong Mulyani ke Jakarta. Mulyani ditempatkan di SMP 11 Kebayoran Baru.

Pasangan ini memiliki tiga anak. Ruri Mahmud, Rika Vitriani dan Revina Ayu. Sekitar tahun 1958, keluarga tersebut tinggal di sebuah rumah pribadi di Kebayoran Baru.

Tema 5 Sub Tema 1 Sbdp 13012021

Setelah lulus dari B I Jurusan Bahasa Inggris pada tahun 1959, ia pindah ke SGA Jalan Setiabudi di Jakarta Selatan untuk mengajar. Pada awal tahun 1962 ia diundang belajar di Universitas Sydney, Australia, selama setahun. Sekembalinya, ia mendaftar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Jakarta dan dipindahkan ke Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di Jalan Halimun, Jakarta Selatan.

Untuk lebih dekat dengan sekolah, Mahmud dan keluarganya pindah ke kawasan Tebet di Jakarta Selatan pada tahun 1964. Pada saat yang sama, ia menyelesaikan gelar mengajar dan ujian pedagogisnya dalam bahasa Inggris. Namun, dia tidak melanjutkan.

Mahmud meninggalkan fakultas. Ia memutuskan untuk belajar musik di SGTK. Ketika SGTK dan SGA bergabung, Mahmud mendirikan paduan suara di sekolah baru tersebut.

Sekitar bulan Maret 1958, Mahmud diundang oleh direktur artistik Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengikuti lokakarya pelatihan guru seni. Yang mengejutkan, pelatihan ini berlangsung di Manila, Filipina selama sebulan mulai tanggal 1 Mei 1985.

Tema 5 Kelas 2 Dan 3, Pai Kelas 2sd

Pada tahun 1968, Mahmud diberi tanggung jawab mengkoordinasikan program musik TVRI “Ayo Bernyanyi”. Pertunjukan tersebut ditayangkan perdana pada tanggal 3 Juni 1968. Pada tahun berikutnya, Mahmud menyarankan kepada TVRI untuk menyelenggarakan lomba menyanyi anak-anak bertajuk “Lagu Pilihanku”. Ide itu diterima. Program ini berlangsung dua kali sebulan. Sayangnya peristiwa ini tidak lagi terjadi pada tahun 1988.

Sejak ditayangkannya kedua program tersebut, banyak perusahaan rekaman yang ingin merekam karya-karya pencipta lagu anak-anak. Mahmud juga ada di sana. 40 lagunya telah direkam dalam tujuh piringan hitam sejak 1969.

Dia mengatakan ada sekitar 500 lagu antara tahun 1964 dan 2000, termasuk lagu-lagu dengan kartu Islami. Semua lagunya ia kumpulkan dalam bentuk buku atas biaya sendiri. Kemudian menyebarkannya di sekolah-sekolah. Setelahnya, banyak penerbit yang meneruskan usaha Mahmud.

Bagi Mahmud, anak adalah gudang ide. Gerakan, ngobrol, bahkan peralatan bermain anak menjadi sumber inspirasi. Misalnya saja saat ia menciptakan “Play Swing”. Lagu anak-anak pertama yang ia ciptakan ditulis saat ia mengajak anaknya bermain di taman. Ide lagunya muncul secara spontan.

Tuliskan Baris Lagu

Dia juga telah menggubah lagu-lagu lainnya. Misalnya saja lagu berjudul “Take the Moon Mom”. Lagu itu diciptakan saat anaknya sedang bermain di taman. Saat itu putranya melihat bulan

Not angka ambilkan bulan bu, tasya ambilkan bulan bu, film ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu, lagu ambilkan bulan bu, download lagu ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu lirik, not ambilkan bulan bu, chord piano ambilkan bulan bu, lirik lagu ambilkan bulan bu, youtube ambilkan bulan bu, video ambilkan bulan bu