Musik Gamelan Mengiringi Pentas Teater – Gamelan gong kebyar yang lahir pada awal abad ke 20 (1915), musik gamelan modern (musik baru), kini menjadi musik tradisional. Meski masih mendominasi jumlah (jumlah) gamelan di Bali, nyatanya ada tanda-tanda bahwa gamelan semakin menonjol sebagai komoditas musik populer yang semakin banyak peminatnya belakangan ini. Kualitas musik yang dulunya sangat tinggi, kini perlahan menghilang seolah kehilangan jati diri. Apakah musik kebyar akan terpinggirkan di milenium ini oleh musik gamelan baru yang tumbuh dan berkembang saat ini?

) dan tumbuh sebagai musik. Gamelan kebyar merupakan hasil karya lokal genius yang terampil dengan orkestra lengkap, gendang unik sebagai mediator, dan harmoni tersendiri. Sebagai musik, ia mempunyai makna universal dan oleh karena itu dapat diasosiasikan dengan musik dunia, termasuk musik Barat atau musik dunia.

Musik Gamelan Mengiringi Pentas Teater

Penampilan Salukat Gamelan dan Komposer Deva Alit dalam Bentara Budaya Bali kali ini mencoba membaca fenomena Kebyar sekaligus menawarkan bentuk komposisi Kebyar yang baru. Sejumlah komposisi yang akan ditampilkan antara lain: Kedituan (

Ludruk Dan Ketoprak, Dua Teater Tradisional Yang Bebeda

Kebyar Baru merupakan pencarian unsur-unsur komposisi eksperimental sehingga menghasilkan ketukan yang tidak terdapat pada musik Kebyar sebelumnya (

). Jadi hal yang baru adalah musiknya. Gamelan ini tidak mempunyai bentuk fisik sebagai media gamelan. Kebaruan bukan hanya tentang apa musik baru itu, namun yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana kebaruan tersebut mempengaruhi musisi dalam hal teknik, estetika, atau pengetahuan tentang kebaruan musik tersebut.

Pertunjukan Kebyar Baru ini menyuguhkan suatu gerakan seni yang inovatif dengan harapan agar seni musik Kebyar tidak terjebak dalam makna sempit eksistensinya yang mapan dan monoton dalam bidang musik tradisional. Menggali lebih dalam, mencari kemungkinan lain, merekonstruksi konsep musik dan aspek komposisi, serta mengabaikan nilai-nilai dasar dari banyak musik yang muncul dalam instrumen, sistem tuning, teknik bermain, dan lain-lain. , dan cara penularannya adalah tradisi lisan, sehingga kehidupan musik kebyar niscaya akan segar dan hidup di milenium ini.

Kali kedua Bentara Budaya Bali menyuguhkan berbagai seni pertunjukan yang menawarkan bentuk eksplorasi atau konsep baru gamelan Bali. Sebelumnya di Triple 2: Musik Baru untuk Gamelan “Homage to Wayan Sadra” (2011), Sekaa Gita Asmara – Kanada (dipimpin oleh I Wayan Sudirana, Ph.D), Grup Gamelan Padhang Monchar dan Taniwha Jaya New Zealand Music School (dipimpin oleh Budi S Putra & Jack Body), Sekaa Gamelan Salukat (Sutradara Deva Alit) dan Verdi Swaram (Sutradara Gde Yudane) dll.

Baca Juga  Nada Pangkal Untuk Interval C Ke E Adalah

Soal Uas Kelas X Seni Budaya

Tak mau kalah, Bentara Budaya Bali juga menyuguhkan 7 episode Komposer Now’s Tribute to Lorraine, sebuah upaya reformasi, format, dan interpretasi ulang karya klasik. atau yang sudah ada, sekaligus menampilkan suatu kreasi baru (re-re-type) (umumnya) merupakan hasil refleksi panjang atas jalan yang ditempuh berbagai seni. Agenda ini akan dilaksanakan pada bulan Juni hingga Desember 2017. Kurator: I Wayan Gde Yudane, Dewa Alit dan I Wayan Sudirana.

Deva Alit lahir di Bali pada tahun 1973 di keluarga seniman. Ia telah dikaitkan dengan gamelan Bali sejak masa mudanya. Selain bermain gamelan, Deva Alit telah menulis lagu sejak remaja dan kini dikenal sebagai salah satu pencipta gamelan terkemuka pada generasinya di Bali. Ia juga dikenal memiliki pendekatan yang terbilang “avant-garde” namun tetap memperhatikan nilai-nilai tradisional dalam musiknya. Karyanya “Geregel” (2000) sangat berpengaruh baik di Bali maupun luar negeri, dan menjadi bahan analisis sepanjang 50 halaman dalam buku “The Perspectives on New Music”. Ia sering diundang untuk mengajar dan menulis gamela Bali di luar negeri. Ini termasuk “The Magician of Semara,” yang ditulis untuk grup gamelan Galak Tika dari Massachusetts Institute of Technology yang berbasis di Boston dan dipentaskan di Carnegie, New York pada tahun 2004; “Pelog Slendro” ditampilkan di Bang on a Can Marathon (Juni 2006). Ia juga menggubah musik untuk ansambel non-gamelan seperti Gamelan Electrika MIT dan Talujon Percussion, AS. Pada tahun 2014, dia menulis “Open My Door” untuk Ensemble Modern dari Frankfurt, Jerman.

Deva Alit mendirikan Gamelan Salukat pada tahun 2007, yang khusus memainkan komposisi terbaru ciptaan Deva Alit. Gamelan Salukat melakukan tur AS dengan Bang on the Can pada tahun 2009 dan 2010 untuk gedung opera baru Evan Ziporin di Bali. Grup ini saat ini sedang mempersiapkan tur Eropa pertama mereka pada bulan Juni 2018.

Gamelan Salukat digubah oleh komposer Deva Alit, yang namanya berasal dari kata ‘Salu’ yang berarti rumah dan ‘Kath’ yang berarti kelahiran kembali atau kelahiran kembali. Oleh karena itu, Salukat mewakili makna penciptaan kreativitas baru yang terbentuk dalam kekayaan tradisi. Gamelan Salukat merupakan aransemen baru gamelan 7 laras yang dirancang oleh Dewa Alit berdasarkan semangat gamelan Bali kuno seperti Selonding, Gambang, Gong Luang dan Semara Pagulingan. Gamelan unik ini merupakan cerminan dari kuatnya akar musik tradisional Deva Alit, sekaligus harapannya menghadapi tantangan dalam menempa jalur baru dalam musik gamelan Bali. Instrumen gamelan Salukat merupakan seperangkat instrumen baru yang diadaptasi dan dikembangkan oleh Deva Alit sendiri. Kerajinan tradisional, tradisi dan ekspresi lisan, seni drama, pengetahuan dan praktik alam dan alam semesta, praktik sosial, ritual dan acara pesta.

Baca Juga  Sebutkan Dampak Negatif Dari Modernisasi

Kesenian Ketoprak: Seni Teater Tradisional Yang Khas

Musik ansambel tradisional di Indonesia mempunyai tangga nada pentatonik dengan sistem tangga nada slendro dan pelog (laras). Ini terdiri dari instrumen perkusi yang digunakan dalam seni musik. Alat musik yang paling umum digunakan adalah metalofon, antara lain alat musik tiup, gender, bonang, gong, saron, slentem, uiyaga yang dimainkan dengan palu (perkusi), dan membranofon, yaitu gendang yang bentuknya mirip gendang tangan. Selain itu, iofon berupa kanak dan metalofon lainnya merupakan beberapa instrumen gamelan yang umum digunakan. Alat musik lainnya adalah gambang yang berbentuk gambang, aerofon yang berbentuk seruling, kordofon yang berbentuk biola, dan kelompok vokal yang disebut sinden.

Kelompok gamelan dikelompokkan menjadi dua, yaitu Hansa Pakurmatan dan Hansa Ageng. Gangsa Pakurmatatan dilaksanakan untuk mengiringi hajad dalem (upacara adat keraton), jumenangan (upacara penobatan raja atau ratu), tingalan dalem (peringatan penobatan raja atau ratu), garebeg (upacara peristiwa penting), sekaten (penting). peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW). Hansa ageng dimainkan dengan iringan pertunjukan budaya, biasanya beksan (tari), waang (seni pertunjukan), uyon-uyon (upacara adat/upacara adat), dan lain-lain.

Sedangkan gamelan yang paling umum dan dilestarikan adalah gamelan Reyog yang ada di Ponorogo. Gamelan Jawa merupakan alat musik tertua di dunia.

Kata gamelan berasal dari bahasa Jawa gamêl yang berarti “menabuh” atau “gendang”, yang dapat merujuk pada sejenis palu yang digunakan untuk memukul alat musik tersebut, diikuti dengan akhiran an yang digunakan sebagai kata benda.

Nicholas Saputra & Happy Salma Jadi Produser Pentas Teater

Istilah Karawitan mengacu pada musik gamelan klasik dan latihan pertunjukan dan berasal dari kata rawit yang berarti “canggih” atau “baik”.

Baca Juga  Gerakan Meroda Bertumpu Pada

Kata tersebut berasal dari kata Jawa dengan akar bahasa Sansekerta, “rawit”, yang mengacu pada rasa kehalusan dan keanggunan yang diidealkan dalam musik Jawa. Kata lain yang berasal dari akar kata ini, pangravite, berarti yang mempunyai pengertian seperti itu, dan digunakan sebagai tanda hormat ketika berdiskusi tentang penabuh gamelan yang dihormati. Kata Jawa “gamelan” (krama) adalah perunggu, berasal dari kata tiga dan sedasa (tiga dan sepuluh) dan mengacu pada unsur-unsur penyusun gamelan, gabungan tiga bagian tembaga dan sepuluh bagian timah. Perpaduan ini menghasilkan perunggu yang merupakan bahan baku terbaik pembuatan gamelan.

Kehadiran gamelan mendahului peralihan budaya Hindu-Buddha yang mendominasi nusantara, mewakili bentuk kesenian asli Indonesia pada tulisan-tulisan awalnya.

Dalam mitologi Jawa, gamelan yang aslinya disebut Gamelan Lokananta, berbunyi di langit, merupakan gamelan tak berwujud yang diciptakan oleh Batara Guru, raja para dewa, yang memerintah pada tahun Saka 167 (atau 230 M). raja dunia dari surga. Istana di Wukir Mahendra Giri di Medang Kamulan (sekarang Gunung Lowu). Batara Guru Batara memerintahkan Indrasurapati untuk membuat gamela lokananta, yaitu gamelan berupa tiruan immaterial berupa gong, kethook, kenong, gong, biola, sebagai tanda untuk memohon kepada dewa. Untuk pesan yang lebih kompleks, ia kemudian menciptakan dua gong terpisah untuk membuat satu set gamelan yang lengkap.

Sendratari Ramayana: Makna, Harga Tiket Dan Jadwal Pentas

Penggambaran paling awal mengenai kumpulan alat musik gamelan (ansambel musik) terdapat pada relief dinding Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 oleh Gunadharma, arsitek Candi Borobudur, pada masa pemerintahan Dinasti Syalendra. Kerajaan Mataram Kuno di Magelang. , Jawa Tengah.

Relief tersebut menggambarkan sejumlah alat musik antara lain seruling, lonceng, gendang berbagai ukuran, kecapi, alat musik gesek, dan gimmick yang terdapat pada relief tersebut. Namun relief pada kumpulan alat musik ini konon berasal dari gamelan.

Kerajaan Bantarangin di Wengker (sekarang Ponorogo, Jawa Timur) membuat gamelan pada abad ke-11 yang menyaingi Kerajaan Daha. Meskipun gamelan sudah ada, namun gamelan ciptaan Wengker menghasilkan musik yang berbeda dengan gamelan pada umumnya yang disebut Gamelan Réog.

Alat musik gamelan diperkenalkan sebagai alat musik yang lengkap dan berkembang pada masa kerajaan Majapahit dan menyebar ke berbagai daerah seperti Bali, Sunda, dan Lombok.

Alat Musik Gamelan

Berdasarkan prasasti dan naskah zaman Majapahit, kerajaan Sunda bahkan mempunyai balai kesenian yang ditunjuk untuk mengawasi seni pertunjukan, termasuk gemela. Pusat Seni mengawasi pembuatan alat musik serta penjadwalan panggung pertunjukan.

Gamelan Kakawin disebutkan dalam naskah lontar yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 di Nagarakertagama. Koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia, Jakarta

Bali memiliki beberapa gamelan yang sudah ada sejak abad ke-9

Pentas seni teater, pentas teater, jenis pentas teater