Upacara Adat Merupakan Wujud Budaya Berupa – Upacara Adat Aceh – Aceh merupakan sebuah daerah yang berada di provinsi paling barat nusantara. Aceh juga merupakan rumah bagi beberapa komunitas etnis, yang tentu saja mempengaruhi kekayaan budaya wilayah Aceh secara keseluruhan. Kebudayaan masyarakat Aceh diwarnai oleh nuansa Islam, agama yang berperan besar dalam sejarah Aceh.

Namun warna budaya dan ritual adat serta seluruh tradisi Aceh justru menambah keunikannya dan sangat menarik untuk disimak. Di antara sekian banyak bentuk seni dan budaya, upacara adat masyarakat Aceh beserta ritual dan tradisinya merupakan aspek yang sangat kental dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Upacara Adat Merupakan Wujud Budaya Berupa

Upacara adat Aceh yang pertama adalah Upacara Peusijuek yang masih berlangsung dan dilakukan oleh masyarakat Aceh. Tradisi ini sangat mirip dengan tradisi Mawar unu dalam budaya Melayu.

Wabup Bantul, H Abdul Halim Muslih Apresiasi Gilangharjo Sebagai Desa Budaya Yang Bermasyarakat Reli

Upacara adat Peusijuek biasanya dilakukan hampir pada setiap kegiatan adat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Di kalangan masyarakat pedesaan, Peusijuek sering kali merupakan upacara yang dilakukan untuk hal-hal kecil seperti membeli mobil baru atau menabur benih di sawah.

Namun bagi masyarakat perkotaan di Aceh dengan gaya hidup yang lebih modern, tradisi Peusijuek hanya dilakukan dalam kegiatan adat saja, seperti proses pernikahan adat.

Dalam pelaksanaannya, proses upacara adat Peusijuek dipimpin oleh seorang sesepuh atau tokoh agama atau adat yang dihormati oleh masyarakat setempat. Bagi laki-laki, upacara adat ini biasanya dipimpin oleh Teuka, sedangkan perempuan dikenal dengan sebutan Ummi, seorang sesepuh yang dihormati masyarakat.

Sebab, proses upacara Peusijuek diisi dengan doa keselamatan dan kesejahteraan sesuai ajaran Islam yang merupakan agama mayoritas masyarakat Aceh. Oleh karena itu, pemimpin upacara Peusijuek dipilih dari kelompok yang memiliki pemahaman dan penguasaan hukum agama Islam yang cukup.

Baca Juga  Jarak Nada Yang Satu Dengan Yang Lain Disebut

Tradisi Bali: Rejang Sang Hyang Iinan Ditarikan Wanita Menopause, Wujud Syukur Masyarakat Pujungan

Upacara Peusijuek dilakukan oleh masyarakat Aceh sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan keberhasilan ketika mampu memperoleh sesuatu baik yang berkaitan dengan benda maupun manusia. Segala permohonan dan ucapan syukur ditujukan kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan.

Tradisi Meugang atau yang dikenal dengan Makmeugang merupakan tradisi menyembelih sapi atau kambing yang dilakukan setiap tiga tahun sekali, yaitu pada bulan Ramadhan, Fitri, dan Idul Adha. Masyarakat Aceh kemudian memasak daging hewan yang disembelih tersebut dan memakannya bersama sanak saudara dan keluarganya, dan sebagian lagi dibagikan kepada anak-anak yatim piatu.

Biasanya jumlah korban baik sapi maupun kambing bisa mencapai ratusan. Selain sapi dan kambing, masyarakat Aceh juga menyembelih ayam dan bebek. Masyarakat Aceh biasanya memasak dagingnya di rumah lalu membawanya ke masjid untuk disantap bersama tetangga dan warga lainnya.

Tradisi desa Meugang atau Makmeugang biasanya dilaksanakan sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan di kota, tradisi ini biasa dilakukan dua hari sebelum perayaan Idul Fitri.

Mengenal Tradisi Ngaben Dan Nyekah, Upacara Kematian Di Bali

Menurut sejarahnya, tradisi Meugang ini sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Aceh ratusan tahun yang lalu. Pada kurun waktu tersebut, antara tahun 1607 hingga 1636 M, Sultan Iskandar Muda menyembelih hewan dalam jumlah besar, kemudian daging hewan tersebut dibagikan secara cuma-cuma kepada seluruh rakyatnya.

Hal ini dilakukan Sultan Iskandar Muda sebagai wujud rasa syukurnya kepada rakyatnya dan rasa syukur atas kemakmuran yang diterima rakyatnya.

Namun setelah Kerajaan Aceh ditaklukkan oleh Belanda sekitar tahun 1873, tradisi kerajaan Meugang tidak lagi dilaksanakan. Namun karena tradisi Meugang sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat di Aceh, maka tradisi Meugang masih rutin dilakukan dalam keadaan apa pun.

Setiap hari raya Meugang, seluruh keluarga akan memasak daging untuk disantap seisi rumah. Tradisi Meugang memiliki nilai religius karena hanya dilakukan pada hari-hari besar umat Islam. Bagi masyarakat Aceh, segala bentuk kebahagiaan yang diterimanya dalam setahun patut disyukuri dan dirayakan dalam bentuk festival Meugang ini.

Sekda Ketapang Alexander Wilyo Hadiri Upacara Adat Tentobus, Membangkitkan Semangat Kelestarian Budaya Di Desa Aur Gading

Kenduri Beureuat merupakan tradisi masyarakat Aceh yang biasanya dipentaskan pada hari Nisfu Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban. Bulan Syaban merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriah dan menjadi rujukan utama penanggalan Alamanak Aceh. Di Alamanak Aceh, bulan Syaban dikenal dengan bulan Khanduri Bu.

Baca Juga  Tanaman Yang Kekurangan Unsur Besi Akan Berdaun Pucat

Kenduri Beureuat biasanya diadakan di mesjid, musala, meunasah dan tempat pengajian yang biasa diadakan setelah salat Maghrib dan Isya. Masyarakat mengadakan Kenduri untuk menikmati pertengahan bulan Syaban dan menikmati bulan Ramadhan bersama.

Istilah beureuat sendiri berasal dari kata Athena beureukat yang berarti berkah. Dari kata tersebut, tradisi ini dianggap meminta berkah kepada Allah (swt).

Seluruh masyarakat Aceh akan datang ke tempat-tempat berlangsungnya tradisi Beureuat, seperti meunasah, untuk menghidupkan kembali kenduri. Meski demikian, warga tidak datang dengan tangan hampa. Ia akan membawa idang, bungkusan makanan berisi nasi dan lauk pauknya yang diletakkan di atas nampan yang cukup besar. Makanan yang ada di dalam Idang tersebut selanjutnya akan dinikmati oleh seluruh warga yang hadir untuk memeriahkan pesta tersebut.

Saksikan Upacara Adat Seren Taun Kasepuhan Cisungsang, Al Muktabar: Masyarakat Cisungsang Menjaga Stabilitas Pangan Daerah

Hingga saat ini tradisi Kenduri Beureuat masih dilakukan di beberapa daerah di Aceh dalam rangka memperingati bulan Syaban, salah satu bulan istimewa menurut penanggalan Hijriah.

Suku Keluwat atau Kluet merupakan suku yang mendiami beberapa wilayah di Aceh Selatan. Secara etnis, masyarakat suku Kluet termasuk salah satu kelompok Batak, khususnya Batak Utara.

Salah satu upacara adat dan tradisi budaya yang dilakukan suku Kluet di Aceh saat ini adalah upacara yang dilakukan oleh para petani saat bekerja di sawah.

Upacara adat ini diawali dengan turunnya para petani ke sawah untuk memanen dan mengolah padi. Setiap tahapan upacara ini mempunyai upacara tersendiri. Misalnya saja ketika petani pertama kali turun ke sawah, maka akan diadakan upacara yang biasa disebut Kenduri Ule Lhueng atau sederhananya Babah Lhueng.

Wujud Kebudayaan Manusia Di Sekitar

Kenduri ini dilakukan ketika air mulai mengalir ke selokan dan selanjutnya air tersebut akan mengairi sawah. Dalam proses ini, petani biasanya menyembelih hewan, biasanya kerbau.

Kemudian setelah padi berumur sekitar satu hingga dua bulan, masyarakat suku Kluet akan menangkap Kenduri Kan. Pementasan Kenduri Kanji secara sederhana adalah upacara pengantaran bubur ke sawah yang dilakukan oleh biotranslator atau juri.

Nantinya, ketika masa kehamilan sudah dekat atau padi sudah penuh, para petani akan melakukan upacara Kenduri Sawah. Kenduri ini mempunyai nama yang berbeda-beda tergantung daerahnya. Misalnya Kenduri Sawah yang biasa dikenal dengan Keunduri Geuba Geuco di Aceh Besar, disusul Kenduri Dara Pade di Aceh Pidie, dan Kenduri Adam di Aceh Utara.

Baca Juga  Apa Yang Dimaksud Dengan Menggambar

Nantinya setelah memotong dan memanen padi, para petani membuat Keunduri Pade Baro. Upacara kenduri ini biasanya diadakan dalam bentuk yang lebih sederhana oleh setiap keluarga petani di rumahnya untuk mendapatkan pemberkatan.

Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta

Dari sekian banyak tahapan upacara adat sawah suku Kluet, kenduri merupakan acara berskala besar yang pertama. Bagi suku Kluet, rangkaian upacara adat ini merupakan ungkapan doa dan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kekayaan melimpah.

Upacara adat yang kelima merupakan upacara adat kematian yang berakar dari budaya masyarakat Alue Tuho di Nagan Raya, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Tradisi reuhab dapat diartikan sebagai ruangan suci yang menjadi tempat tinggal seseorang ketika meninggal dunia.

Selain dianggap sebagai ruangan keramat bagi orang yang sudah meninggal, Reuhab juga bisa diartikan sebagai barang peninggalan orang yang sudah meninggal. Umumnya barang-barang sisa tersebut mungkin merupakan pakaian terakhir yang dikenakan oleh almarhum, yang kemudian disimpan di ruang Reuhab yang dianggap suci selama 40 hari.

Saat melaksanakan upacara adat Reuhaba ini, pihak keluarga akan mengadakan pengajian dan mengundang tokoh agama setempat. Keluarga yang ditinggalkan akan masuk fardhu yang akan mereka salat rakaat.

Makna Upacara Adat Sulang Sulang Pahompu Bagi Suku Batak Toba

Contohnya seperti pakaian akhir, kain, palet yang digunakan untuk mengangkat jenazah, dan lain-lain. Selain itu, keluarga diberikan dua bantal, satu bantal, satu Alquran, satu muqeen, harta tak terbagi, perlengkapan tidur, dan lain-lain.

Bagi masyarakat Alua Tuho, tradisi Reuhab sangat penting dan mempengaruhi kehidupan masyarakat. Jadi bila ada masyarakat yang tidak melaksanakan upacara kematian Reuhab terhadap orang yang sudah meninggal, maka itu dianggap penghinaan.

Tradisi Rabu Aceh atau Uroe Tulak Bala merupakan tradisi yang biasa dilakukan sebagian masyarakat pesisir barat daya Aceh secara rutin setiap tahunnya. Ritual ini dilakukan di bulan Safar untuk melindungi dari kejahatan dan masalah. Di bulan ini, masyarakat percaya bahwa Tuhan mendatangkan bencana atau musibah bagi dunia.

Tradisi Uroa Tulak Bala telah berkembang sejak lama. Pertama, pada saat sholat berjamaah di pantai dengan partisipasi seluruh penduduk desa, dilakukan ritual perlindungan dari bencana. Namun kini pelepasan itu menjadi ajang kegembiraan keluarga, termasuk anak-anak asyik bermain di pantai.

Contoh Contoh Adat Istiadat Dari Berbagai Daerah Di Indonesia

Uroe Tulak Bala biasanya diadakan pada akhir bulan Safar setiap tahunnya menurut penanggalan Hijriah. Dikatakan bahwa Nabi Muhammad mulai membaik pada bulan Safar dan segera meninggal pada bulan ketiga tahun itu.

Berdasarkan cerita tersebut, sebagian masyarakat Aceh mulai menganggap dan menilai Safar sebagai bulan yang berbahaya. Karena kepercayaan tersebut, masyarakat mulai memohon kepada Tuhan untuk menjaga tradisi Uroa Tulak Bala. Namun tradisi Uroe Tulak Bala hanya berkembang di beberapa daerah di Aceh seperti Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Selatan, Singkil dan Aceh.

Wujud budaya nasional, wujud hukum adat, upacara adat sunda pernikahan, wujud budaya, wujud budaya menurut koentjaraningrat, 3 wujud budaya, wujud budaya politik, upacara adat, upacara adat pengantin jawa, pengertian wujud budaya, upacara pernikahan adat betawi, wujud budaya bali